Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Udara terasa lebih tenang, masjid lebih ramai, dan hati seakan diberi ruang untuk kembali berpikir. Kita menahan lapar dan haus sejak fajar hingga maghrib. Kita belajar mengontrol emosi, menjaga lisan, dan menahan diri dari hal-hal yang biasanya terasa biasa.
Namun sering kali kita lupa, ada satu hal yang juga perlu ditahan dan diperbaiki yaitu tentang bagaimana cara kita berteman.
Di sekolah, pertemanan adalah dunia kita. Di sanalah kita tertawa, berbagi cerita, saling membantu, bahkan saling memengaruhi. Tanpa kita sadari, siapa yang paling sering bersama kita akan sangat menentukan siapa diri kita nanti. Cara bicara kita, kebiasaan kita, bahkan pilihan-pilihan hidup kita banyak dibentuk oleh circle terdekat.
Ramadhan seharusnya menjadi momen untuk bertanya dengan jujur pada diri sendiri. Apakah pertemanan yang aku jalani selama ini membawaku lebih dekat pada kebaikan, atau justru perlahan menjauhkan?
Tidak semua pertemanan yang terlihat seru itu sehat. Ada pertemanan yang dipenuhi candaan, tetapi candaan itu menyakiti. Ada yang terlihat solid, tetapi di belakang saling membicarakan. Ada yang terasa kompak, tetapi kompak dalam melanggar aturan. Ada yang terasa setia, tetapi setia dalam kebiasaan yang salah.
Itulah yang sering disebut sebagai pertemanan toxic. Ia tidak selalu terlihat kasar atau ekstrem. Kadang ia halus. Kita merasa diterima, merasa tidak sendirian, tetapi perlahan kita ikut terseret. Awalnya hanya ikut tertawa saat teman direndahkan. Lama-lama ikut mengejek. Awalnya hanya menemani teman melanggar aturan. Lama-lama ikut terbiasa.
Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri. Jika kita mampu menahan lapar karena Allah, seharusnya kita juga mampu menahan diri dari lingkungan yang merusak karakter kita.
Memilih pertemanan yang sehat bukan berarti merasa lebih baik dari orang lain. Bukan juga berarti memusuhi. Tetapi itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita punya masa depan yang harus dijaga. Kita punya orang tua yang berharap. Kita punya nama baik yang harus dipertahankan.
Pertemanan yang sehat adalah pertemanan yang membuat kita tumbuh. Teman yang baik tidak selalu membenarkan kita. Justru kadang ia berani mengingatkan ketika kita salah. Ia tidak menertawakan kelemahan kita, tetapi membantu kita memperbaikinya. Ia tidak menarik kita ke bawah, tetapi mendorong kita untuk menjadi lebih baik dalam belajar, dalam sikap, dan dalam ibadah.
Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi circle kita. Bukan untuk langsung memutuskan hubungan secara emosional, tetapi untuk memperbaiki arah. Jika selama ini circle kita terlalu banyak diisi dengan gosip, mungkin saatnya diganti dengan diskusi yang lebih bermanfaat. Jika selama ini waktu bersama habis untuk hal yang sia-sia, mungkin saatnya digunakan untuk tilawah, belajar bersama, atau membuat proyek kebaikan.
Yang tidak kalah penting, kita juga perlu bertanya: sudahkah aku menjadi teman yang sehat bagi orang lain? Jangan sampai kita sibuk menilai circle toxic, tetapi tanpa sadar kitalah sumber racunnya. Apakah lisan kita aman? Apakah kita menjaga rahasia? Apakah kita ikut diam saat teman direndahkan? Apakah kita mengajak pada kebaikan?
Perubahan tidak selalu dimulai dari mengganti teman. Kadang perubahan dimulai dari memperbaiki diri sendiri. Ketika kita berubah, lingkungan pun akan ikut menyesuaikan. Ada yang bertahan, ada yang menjauh. Dan itu tidak apa-apa.
Ramadhan hanya datang sebulan dalam setahun. Akan sangat disayangkan jika kita hanya memperbaiki jadwal makan, tetapi tidak memperbaiki arah pertemanan. Karena teman bukan hanya teman di dunia sekolah hari ini. Mereka bisa menjadi bagian dari perjalanan panjang hidup kita.
Maka di bulan yang penuh keberkahan ini, mari kita perbaiki hubungan dengan Allah, dan sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama. Berani mengambil jarak dari yang merusak, dan berani mendekat pada yang menumbuhkan.
Semoga Ramadhan kali ini bukan hanya membuat kita lebih kuat menahan lapar, tetapi juga lebih bijak dalam memilih dan menjadi teman.




