Bagi seorang anak, sekolah bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Sekolah adalah ruang kehidupan. Di sanalah anak menghabiskan sebagian besar waktunya belajar, berinteraksi, berselisih, berdamai, jatuh, lalu bangkit kembali. Karena itulah, sekolah sering disebut sebagai rumah kedua bagi anak tempat ia bertumbuh tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara karakter dan kepribadian.
Di SMP Darul Hikam, sekolah dipahami bukan hanya sebagai institusi pendidikan, melainkan sebagai lingkungan pembinaan. Anak datang bukan hanya membawa buku dan seragam, tetapi juga membawa latar belakang keluarga, emosi, kebiasaan, potensi, serta tantangan masing-masing. Maka tugas sekolah bukan sekadar “mengajar”, tetapi mendampingi proses tumbuh kembang anak secara utuh.
Prinsip inilah yang menjadi ruh dari penerapan 7 Nilai Taqwa Character Building (TCB) di SMP Darul Hikam. Nilai-nilai ini tidak berhenti pada slogan, tetapi dihidupkan dalam keseharian sekolah melalui pembiasaan, keteladanan, dan interaksi yang bermakna. Ketakwaan tidak hanya dimaknai sebagai hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga tercermin dalam sikap jujur, tanggung jawab, kepedulian, disiplin, dan penghormatan terhadap sesama.
Sebagai rumah kedua, sekolah harus menghadirkan rasa aman. Anak perlu merasa bahwa ia diterima sebagai pribadi yang sedang belajar termasuk belajar dari kesalahan. Di sinilah 10 Budaya Berakhlak Berprestasi mengambil peran penting. Budaya ini membentuk iklim sekolah yang mendorong anak untuk berprestasi tanpa kehilangan akhlak, serta berakhlak tanpa mematikan potensi diri. Prestasi bukan tujuan tunggal, melainkan buah dari proses yang sehat dan bermakna.
Budaya saling menghargai, disiplin yang mendidik, komunikasi yang santun, serta semangat untuk terus memperbaiki diri menjadi bagian dari keseharian siswa. Anak belajar bahwa keberhasilan tidak lahir dari tekanan semata, tetapi dari kebiasaan baik yang dijalani secara konsisten. Dalam lingkungan seperti ini, sekolah benar-benar menjadi ruang aman untuk bertumbuh.
Lebih dari itu, SMP Darul Hikam juga menanamkan 7 Kesadaran Patriot sebagai bekal siswa menghadapi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kesadaran ini membentuk cara pandang anak terhadap diri, lingkungan, dan tanggung jawab sosialnya. Anak tidak hanya diajak menjadi individu yang cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian, rasa memiliki, serta keberanian untuk berkontribusi secara positif.
Kesadaran patriot ini tidak selalu hadir dalam bentuk besar atau heroik. Ia tumbuh dari hal-hal sederhana: menjaga kebersihan, menghormati perbedaan, menaati aturan, berani bersikap jujur, serta peduli terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang memperkuat makna sekolah sebagai rumah kedua tempat anak belajar menjadi bagian dari komunitas yang lebih luas.
Peran guru dalam proses ini sangatlah penting. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi figur teladan dan pendamping. Sikap guru yang adil, empatik, dan konsisten dalam menegakkan nilai akan membentuk pengalaman belajar yang membekas bagi anak. Kalimat sederhana, perhatian kecil, atau kesediaan untuk mendengarkan sering kali menjadi fondasi kepercayaan diri siswa.
Namun, rumah kedua tidak akan kokoh tanpa dukungan rumah pertama. Kolaborasi antara sekolah dan orang tua menjadi kunci agar nilai-nilai TCB, budaya berakhlak berprestasi, dan kesadaran patriot dapat terinternalisasi dengan baik. Ketika rumah dan sekolah berjalan seiring, anak tidak akan bingung dengan nilai yang ia jalani.
Menjadikan sekolah sebagai rumah kedua berarti menghadirkan lingkungan yang hangat, mendidik, dan bernilai. Lingkungan yang tidak hanya menyiapkan anak untuk ujian, tetapi juga untuk kehidupan. Di SMP Darul Hikam, pendidikan dipahami sebagai proses memanusiakan manusia membentuk generasi yang bertakwa, berakhlak, berprestasi, dan memiliki kesadaran sebagai bagian dari bangsa dan umat.
Karena pada akhirnya, sekolah yang baik bukan hanya tempat anak belajar tentang dunia, tetapi tempat anak belajar menjadi dirinya sendiri dengan nilai, arah, dan tujuan hidup yang jelas.




